Meniti Hari Mencari Mentari Merah 4

tears.jpg

Sukar amat melupakanmu,
Walau air mataku kering sudah keranamu,
Keangkuhanmu tidak dapat menyembunyi,
Kotak hati yang ditanam rapi,
Disalut baldu lembut halus berduri.

Oh Tuhan diri yang lemah ini,
Aku redho, biarlah diri ini diuji,
Apalah dunia dengan air mata murahan ini,
Biar harus kumerangkak pergi,
Pasti jua nanti aku kan berdiri.

Al-Haqku ya rabbi,
Telah kukotakkan mutiara-mutiara hati,
Bersama sinar permata biru di kala dini, 
Dililit bebola-bebola hati,
Yang telah beku sedari tadi.

Kan kutitipkan jua rinduku,
Demi sinar mentari merah itu,
buat mereka yang belum mengerti,
kerana nanti,
perjalanan ku amat jauh sekali.

Dalam meniti hari,
Aku ingin sekali,
Berhenti buat sekian kali,
Namun demi mereka yang belum mengerti,
Aku bangun lagi.

Kini kuberangkat pergi,
Berbekalkan sebuah kotak hati,
Meniti hari,
Mencari lagi,
Mentari merah yang masih hidup lagi.

Allahu ya rabbi,
Peliharalah diri dan keluarga kami,
Dari kekejaman makhluk diniawi,
Dalam kami mencari,
Arah dan jalan menuju kepadaMu ya Rahim.

La ilaha illa anta
subhanaka inni kuntuminaldzolimin
wahaiyiklana min amrina rasyada.

This entry was posted in Thoughts & Reflections. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s