Demokrasi Yang Terus Buntu…

bismillah-burung.jpg

Sejak 19.8.2007 hingga kini penulisan mengenai Pendemokrasian Pendidikan tidak pernah siap.  Masa amat mencemburuiku.  Sem 5 dah di penghujungnya.  Pejam celik esok sem 6.  Tesis oh tesis.  Bulan 6 tahun depan nak kena hantar.  Apa nak ku tulis? Oh Tuhan!  Bagaimanakah menjustifikasikan pembangunan manusia dalam pendidikan komputer untuk pendemokrasian pendidikan ini?  Diri ini memang sebati dengan amalan sang pemilik otak kiri.   Analitikal dan linear.  Mungkin perlu sinergi dari otak kananku.  Puitis dan global.  Oh..tak mungkin.  Aku bukan seorang penyair. Namun izinkan aku mencuri beberapa minit ruang waktu untuk memaparkan puisi grup karyawan luar negara ini buat membakar semangatku yang seakan mencari alasan untuk bermalasan.

  

Tidak perlu tunggu siap pendemokrasian pendidikan dulu.  Mungkin boleh siapkan laporan kerja lapangan sebagai persediaan bab 4 dan nanti kembali ke bab 1 semula. Mungkin dan mungkin…atau mungkin menjengah lagi puisi Imam Shafie…Ya mungkin, mungkin akan dapat semangat baru ar-ruhul jadeed, yes! memang itu yang kumahu…

Tapi itu bukan sebahagian dari tugasku?  Amanah yang diberi kepadaku adalah untuk menyiapkan tesis ini! Tapi kata Ustadz Zul (menggantikan Ustaz Dato’ Ismail Kamus yang tidak sihat untuk kuliah di Annur kira-kira 3 minggu lalu), kadangkala diri kita ini tidak kesampaian ke matlamat yang dituju kerana tiada rasa dalam hati dan perasaan (lebih kurang begitulah yang kufaham).  Jadi perlu hadirkan hati dan perasaan dalam apa yang dikaji baru boleh terus maju…

Uztadz Zul kata, kadangkala dalam memperoleh ilmu itu kita tidak dapat merasai nikmat kemanisan ilmu itu.  Lalu perlu kita hiasi atau datangkan dalam bentuk yang kreatif sehingga mampu menusuk kalbu.  Mungkin cari ilmu dari buku dan kuliah tak menjadi lalu cari dalam bentuk puisi, nasyeed, syair atau yang seumpamanya.  

Itu sebabnya Ustadz Zul suka membawa kuliahnya dalam bentuk syair, puisi dan lagu (huh..memang penyair yang hebat…kulihat ada makcik dan kakak menitiskan air mata tatkala Ustadz Zul membacakan puisi cinta hakikinya….  Sempat juga Ustadz Zul menyanyikan 2 bait lagu Gersang (rasanya) Amy Search sebelum menceritakan perihal mereka menemuramah Amy mengenai pengalamannya di tanah suci bersama2 Ust Dr. Badrol Amin baru2 ini.  Kata Amy dia mendapat satu ketenangan yang tak dapat digambarkan.  Kata Ustadz Zul inilah masanya jika ingin mendekatinya.

Kembali ke masalah duniaku.  First things first.  Laporan kerja lapangan itu terlalu rumit, banyak ranjau ke destinasi yang dituju.  Siapkan dulu bajet eKomuniti.  Oh tidak, siapkan dulu paper ICET.   Hubungi Mai, Farah dan Roziah.  Buat laporan kajian lapangan, masukkan dalam paper ICET.  Alhamdulillah, aku nampak apa yg perlu kubuat.  Ya Allah, terima kasih, Ya Rahman.  Akan kumulai sekarang.   Kumulai dgn lafaz Bismillah. Untuk semangat ruhul jadeedku, izinkan aku meminjam kata2 munajat Imam Abu Hanifah: 

Wahai Tuhanku, jika rasa taatku kecil menurutMu,
maka sungguh besar harapanku terhadapMu.
Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menghindar dari suatu yang haram?
Aku berharap dengan kemurahanMu dapat menerima kasih sayangMu.

Wahai Tuhanku, jika pikiranku lupa memperbaiki diriku,
maka tidak akan hilang keyakinanku kepada sesuatu yang bermanfaat pada diriku.
Wahai Tuhanku, muliakanlah aku dengan beriman kepadaMu.
Bagaimana Kamu menyiksaku di antara himpitan dua api neraka?

Wahai Tuhanku, apabila aku membaca dari kitabMu,
betapa sangat pedihnya siksaMu, maka kasihanilah aku.
Apabila aku membaca dari kitabMu betapa Engkau sangat Pemaaf dan Penyayang, maha aku bahagia.
Dan aku berada dalam dua keadaan; curahkanlah rahmatMu kepadaku. 

Sesungguhnya Kamu tidak menghilangkan kebaikanMu selama masa hidupku.
Jangan Kamu lepaskan kebaikanMu dariku pada hari kematianku. 
Jika Kamu mengampuniku, maka itu adalah keutamaanMu. 
Jika Kamu menyiksaku, maka itu adalah keadilanMu.
Wahai Tuhanku, tidak ada orang yang bisa diharapkan kecuali keutamaanMu,
dan tidak orang yang takut kecuali pada azabMu.

Ya Allah, hanya rahmatMu yang aku harapkan.  Jangan tinggalkan aku sendirian walau kadar sekelip mata.
Perbetul dan permudahkanlah segala urusanku, Amin ya rabbal alamin.

Di ambang iftar Bangi

This entry was posted in Thoughts & Reflections. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s